Larangan Safar bagi wanita part 2

Wanita tidak boleh safar tanpa mahram (2/2)

Jika kita perhatikan hadits-hadits di atas yang melarang wanita safar tanpa mahram, ternyata terdapat perbedaan lafadz. Terdapat lafadz yang muthlaq, yaitu “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya” dan juga terdapat lafadz yang muqayyad (dikaitkan dengan keterangan tambahan) yaitu yang menyebutkan “tiga hari”, atau “dua hari”, atau “sehari semalam”. Bagaimana mengkompromikannya? Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan hal ini:

قال العلماء: اختلاف هذه الألفاظ لاختلاف السائلين واختلاف المواطن، وليس في النهي عن الثلاثة تصريح بإباحة اليوم والليلة أو البريد، قال البيهقي كأنه – صلى الله عليه وسلم – سئل عن المرأة تسافر ثلاثاً بغير محرم، فقال: لا، وسئل عن سفرها يومين بغير محرم، فقال: لا، وسئل عن سفرها يوماً، فقال: لا، وكذلك البريد؛ فأدى كلٌّ منهم ما سمعه. وما جاء منها مختلفاً عن رواية واحد فسَمِعَه في مواطن، فروى تارة هذا، وتارة هذا، وكله صحيح، وليس في هذا كله تحديد لأقل ما يقع عليه اسم السفر، ولم يُرِد – صلى الله عليه وسلم – تحديد أقل ما يسمى سفراً؛ فالحاصل أن كل ما يسمى سفراً تُنهى عنه المرأة بغير زوج أو محرم، سواء كان ثلاثة أيام أو يومين أو يوماً أو بريداً أو غير ذلك؛ لرواية ابن عباس المطلقة، وهي آخر روايات مسلم السابقة: ((لا تسافر امرأة إلا مع ذي محرم))، وهذا يتناول جميع ما يسمى سفراً، والله أعلم

“Para ulama mengatakan: perbedaan lafadz ini karena berbedanya orang yang bertanya kepada Nabi dan juga perbedaan tempat. Dalam hadits tidak ada larangan tegas untuk safar yang selama 3 hari, karena adanya hadits safar sehari-semalam dan satu barid. Al Baihaqi mengatakan: “seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu sedang ditanya tentang seorang wanita yang bersafar selama 3 hari tanpa mahram, maka Nabi menjawab: tidak boleh. Dan ditanya tentang wanita yang bersafar selama 2 hari tanpa mahram, maka Nabi menjawab: tidak boleh. Dan ditanya tentang wanita yang bersafar selama sehari-semalam tanpa mahram, maka Nabi menjawab: tidak boleh. Demikian juga tentang lafadz “al barid”. Nabi menjawab sesuai dengan pertanyaannya. Dan hadits-hadits yang lafadz-nya berbeda padahal satu riwayat, ini karena didengar di beberapa tempat. Sehingga diriwayatkan terkadang dengan lafadz A dan terkadang dengan lafadz B. Semuanya shahih.

Maka dalam hal ini tidak ada pembatasan hari perjalanan yang dianggap safar. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak bermaksud membatasi jumlah hari minimal perjalanan yang dianggap safar. Intinya, semua yang termasuk perjalanan safar maka wanita tidak boleh melakukan perjalanan tersebut tanpa suami atau mahram. Baik itu tiga hari, dua hari, satu hari, satu barid, atau yang lainnya berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas yang muthlaq. Dan ini adalah hadits terakhir yang dibawakan Imam Muslim (dalam bab safar), yaitu: “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya”. Maka hadits ini mencakup seluruh perjalanan yang termasuk safar. Wallahu a’lam” (Syarah Shahih Muslim, 9/103).

Dari penjelasan di atas, maka jelas bagi kita bahwa safarnya wanita yang diwajibkan bersama mahramnya tidak harus perjalanan 3 hari. Jika perjalanan tersebut hanya satu hari atau beberapa jam saja, namun sudah termasuk perjalanan safar, maka berlaku larangan safar tanpa mahramnya.

@fawaid_kangaswad

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Larangan Safar bagi wanita part 2"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel