CINTAILAH NABI MUHAMMAD SHOLLALLOHU ALAIHI WA SALLAM, TETAPI JANGAN GHULUW (MELAMPAUI BATAS)

CINTAILAH NABI MUHAMMAD SHOLLALLOHU ALAIHI WA SALLAM, TETAPI JANGAN GHULUW (MELAMPAUI BATAS) !

Saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh....

Sungguh, Alloh Ta’ala telah memuliakan umat manusia ini dengan berbagai karunia dan keutamaan. Salah satunya adalah, dengan diutusnya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam di tengah umat manusia.

Beliau diutus, dengan membawa petunjuk, yakni memberi petunjuk kepada umat manusia, dari kegelapan kesyirikan dan kekufuran kepada cahaya Tauhid yang terang benderang. Beliau mengeluarkan mereka dari kesesatan, kepada petunjuk yang benar.

Dan Alloh Ta’ala menyempurnakan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan diutusnya beliau, dan disempurnakan pula agama-Nya

Dalil yang menunjukkan hal itu, adalah firman Alloh Ta’ala :

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ١٦٤

“Sungguh Alloh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Alloh mengutus diantara mereka seorang rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (yakni Al-Qur'an) dan Al Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”  (QS Ali Imron : 164)

هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّ‍ۧنَ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ٢

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al-Jum’ah : 2)

Demikianlah ! Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam wafat, dalam keadaan beliau telah menyampaikan “risalah” agama ini, dan telah menunaikan semua “amanah” Alloh yang dibebankan pada beliau, dan juga telah menasehati umat ini semua perkara agama.

Beliau telah melakukan semua itu dengan segala kesungguhan dan kemampuan.

Tidak ada suatu perkara kebaikan pun, kecuali beliau telah menyampaikannya dan menganjurkan kaum muslimin untuk mengamalkannya.

Dan tidak ada suatu perkara kejelekan pun, kecuali beliau telah mengingatkan umat ini darinya dan melarangnya.

Kemudian ketahuilah wahai saudaraku kaum muslimin ……

Termasuk perkara yang tidak tersembunyi dalam agama kita ini dan yang pasti diketahui oleh setiap muslimin adalah kewajiban untuk “mencintai” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Bahkan perkara ini adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim, laki-laki maupun wanita. 

Dalam hadits yang shohih, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده وواده والناس أجمعين

“Tidak beriman salah seorang dari kalian (dengan keimanan yang sempurna), sampai aku ini lebih dicintainya daripada anaknya, bapaknya dan manusia yang lainnya.” (HR Imam Al-Bukhori no. 15 dan Imam Muslim no. 44)

Kecintaan terhadap Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam seperti dalam perintah tersebut di atas, adalah kecintaan yang sifatnya “wajib”.

Dan tentunya, kecintaan seorang muslim kepada Nabinya, tentu ada bentuknya, ada bukti dan juga tanda-tandanya. Bukan sekedar pengakuan di lesan belaka.

Lalu, tahukah anda apa bentuknya ? Apa bukti dan tanda-tanda-nya ?

Diantara bukti dan tanda-tanda kecintaan seorang muslim terhadap Nabinya, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama kita, adalah :

“Mentaati beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam semua apa yang beliau perintahkan, membenarkan semua berita atau kabar yang beliau sampaikan, menjauhi semua perkara yang beliau larang, dan kita tidak beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, kecuali dengan apa yang telah beliau syari’atkan.”

Alloh Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَلَا تُبۡطِلُوٓاْ أَعۡمَٰلَكُمۡ ٣٣

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS Muhammad : 33)

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa’ : 59)

Alloh Subahanahu wa Ta’ala juga berfirman :

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS Al-Hasyr : 7)

Alloh Subahanahu wa Ta’ala juga berfirman :

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab : 21)

Tentang ayat tersebut di atas, Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Katsir rohimahulloh menjelaskan :

“Ayat yang mulia ini adalah asal/dasar dalam hal “meneladani” Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, baik dalam hal ucapan beliau, perbuatan beliau, dan keadaan-keadaan beliau semuanya.” ( Tafsir Al-Qur’anil ‘Adzim, 3/642)

Jadi, mencintai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam itu adalah dengan mentaati beliau dan meneladani beliau, dalam semua hal yang beliau ajarkan, wallohu a’lamu bis showab.

Kemudian, perlu juga anda semua ketahui wahai saudaraku kaum muslimin ……

Termasuk dari qo’idah (ketentuan/aturan) penting dalam agama Islam ini adalah, bahwa yang namanya perkara “ibadah” itu adalah bersifat “tauqifiyyah”, yakni harus mengikuti dalil, baik dalil dari Al-Qur’an maupun dari Sunnah Rosululloh yang shohih. Tidak ada tempat bagi “akal” dalam permasalahan ibadah ini.

Dan ibadah itu juga, hanyalah dibangun berdasarkan sikap ittiba’ (yakni mengikuti apa saja yang berasal dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam), bukan berdasarkan ibtida’ (membuat-buat bid’ah/perkara baru dalam agama).

Dan ibadah itu juga, hukum asalnya adalah “harom” dan dilarang, sampai ada “dalil” yang menunjukkan disyari’atkannya ibadah tersebut. 

Dalil yang menunjukkan qo’idah tersebut di atas adalah hadits dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalannya itu adalah tertolak (tidak diterima oleh Alloh).” (HR Imam Muslim no. 1718)

Dan ketahuilah pula wahai kaum muslimin rohimakumulloh ……

Bahwa sebagian dari saudara kita kaum muslimin – semoga Alloh Ta’ala senantiasa memberi hidayah/petunjuk-Nya kepada mereka, …… bahwa mereka membuat suatu kebid’ahan dalam agama ini dengan suatu bid’ah (amal-amal yang diada-adakan) yang tidak berdasarkan ilmu yang diturunkan oleh Alloh Ta’ala (yakni tidak berdasarkan syari’at Alloh dan Rosul-Nya).

Diantaranya adalah seperti apa yang biasa terjadi di bulan Robi’ul Awwal ini.

Sebagian dari kaum muslimin merayakan apa yang disebut sebagai Maulud Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Mereka menyangka, bahwa perayaan ini adalah bagian dari ibadah kepada Alloh, dan termasuk dari amal ketaatan yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Alloh Ta’ala. Padahal mereka tahu, bahwa ini sesungguhnya termasuk perkara bid’ah (yakni bukan sunnah/tuntunan dan ajaran Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam), yang sesat dan jauh dari syari’at Alloh dan Rosul-Nya.

Maka, merayakan Maulud (hari ulang tahun kelahiran) Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, adalah tidak boleh/dilarang secara syar’i, dan mengamalkannya hanya akan berujung pada amalan yang sia-sia dan tertolak (tidak diterima oleh Alloh Ta’ala).

Hal ini tentunya bila ditinjau dari beberapa sisi sebagai berikut :

PERTAMA : Tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya amalan tersebut, baik dari Al-Qur’an maupun dari sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۗ وَإِنَّ ٱلظَّلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ٢١

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? …..” (QS Asy-Syuro : 21)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalannya itu adalah tertolak (tidak diterima oleh Alloh).” (HR Imam Muslim no. 1718)

Dalil tersebut di atas menunjukkan, amalan apapun yang tidak dibangun di atas syari’at Alloh dan Rosul-Nya, adalah batal dan sia-sia.

KEDUA : Sesungguhnya Syari’at Islam, adalah syari’at yang telah sempurna. Jadi, dia tidak membutuhkan lagi adanya tambahan-tambahan (syari’at baru) atau pengurangan-pengurangan.

Sebagaimana ditegaskan oleh Alloh Ta’ala dalam firman-Nya :

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ ….. ٣

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….” (QS Al-Maidah : 3)

Karena sudah sempurna syari’atnya, maka Islam tidak membutuhkan lagi tambahan syari’at baru, atau pengurangan di sana-sini (dengan kata lain, nggak butuh lagi “bongkar pasang” syari’at, edt.) .

Maka bila ada sebagian orang, yang membuat-buat kebid’ahan dalam amalan ibadahnya, meskipun dengan niat dan tujuan yang baik, hal itu tetap tidak boleh dan sia-sia amalannya.

Bahkan bila ada yang menganggap bid’ahnya itu adalah “HASANAH” (baik), sungguh berarti dia telah melakukan “tuduhan keji” kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagai “pengkhianat agama”.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Imam Malik bin Anas rohimahulloh :

من ابتدع في الإسلام بدعة، يراها حسنة، فقد زعم أن محمدا صلى الله عليه وسلم خان الرسالة، لأن الله يقول :

(ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ,)

فما لم يكن يومئذ دينا، فلا يكون اليوم دينا

“Barangsiapa membuat-buat suatu kebid’ahan dalam agama Islam ini, dan menganggap baik (bid’ahnya tersebut), sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati “risalah agama ini”.

Hal ini karena Alloh Ta’ala telah berfirman : ( “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”).

Kemudian, Imam Malik rohimahulloh juga berkata setelah menyebutkan hal di atas : “Maka apa saja yang pada hari itu (yakni di jaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam) bukan dianggap sebagai agama, maka pada hari ini pun (yakni di jamannya Imam Malik) tidak pula dianggap sebagai agama.”

(lihat kitab : Al-I’tishom (1/49), karya Al-Imam As-Syatibi rohimahulloh, dari salah seorang murid Imam Malik, yakni Ibnu Al-Majisyun rohimahulloh)

Kita pun juga mesti mengatakan, wallohi - bahwa perayaan Maulud itu bukan ajaran Nabi dan tidak pernah ada di jaman Nabi.

Maka berarti Maulud itu bukan bagian dari agama Islam ini sedikitpun, dahulu maupun sekarang, meskipun banyak orang yang merayakannya !
KETIGA : Bahwasannya para sahabat rodhiyallohu ‘anhum, mereka adalah manusia-manusia yang paling bertakwa kepada Alloh, dan paling semangat untuk melakukan amal-amal kebaikan, dan juga paling besar rasa cintanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, dibandingkan dengan siapapun orang-orang yang datang sesudah generasi mereka.

Tetapi bersamaan dengan itu semua, mereka “tidak pernah” sama sekali merayakan peringatan Maulud Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Seandainya hal itu adalah baik, tentu mereka adalah orang-orang yang paling lebih dulu dalam melakukannya.

Dan kitapun, diperintah untuk meneladani petunjuk para sahabat Nabi, dan juga menempuh jalan yang mereka tempuh, sebagaimana hal itu dijelaskan dalam hadits Al-‘Irbadh bin Sariyah rodhiyallohu ‘anhu, bahwasannya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها عضوا عليها بالنواجد، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة

“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin Al-Mahdiyyin (para kholifah/penggantiku yang terbimbing dan senantiasa mendapat petunjuk) sesudahku. Berpegang teguhlah kalian dengannya, dan gigitlah dia dengan gigi geraham (yakni pegang kuat-kuat jangan sampai lepas). Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru (dalam agama ini), karena sesungguhnya semua perkara baru itu adalah bid’ah, dan semua yang bid’ah itu adalah kesesatan.”

(HR Imam Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676 dan lainnya, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh Shohih Al-Jami’ no. 2549 dan Al-Misykah no. 165)

KEEMPAT : Bahwa di dalam acara perayaan Maulud Nabi, kebanyakannya mengarah pada berbagai sikap GHULUW (berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam memuji-muji dan menyanjung serta bersikap) terhadap Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَٰأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ وَلَا تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّ إِنَّمَا ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلۡقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرۡيَمَ وَرُوحٞ مِّنۡهُۖ فَ‍َٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۖ وَلَا تَقُولُواْ ثَلَٰثَةٌۚ ٱنتَهُواْ خَيۡرٗا لَّكُمۡۚ إِنَّمَا ٱللَّهُ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ سُبۡحَٰنَهُۥٓ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٞۘ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلٗا ١٧١

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (QS An-Nisa’ : 171)

Dalam ayat ini, Alloh melarang Ahlul Kitab (khususnya orang-orang Nasrani) untuk bersikap ghuluw dalam memberikan pujian dan sanjungan serta bersikap kepada Nabi Isa ‘alaihis salam. Hingga akhirnya mereka menjadi kafir karena perbuatannya tersebut.

Hal itupun juga berarti, agar kaum muslimin jangan bersikap Ghuluw terhadap Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, sehingga mereka pun juga menjadi sesat dan kafir karena perbuatannya tersebut.

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam juga sudah memperingatkan kita semua :

إياكم والغلو في الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين

“Berhati-hatilah kalian dari sikap GHULUW dalam agama ini, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian dahulu adalah sikap ghuluw dalam beragama.” (HR Imam Al-Bukhori)

Diantara bentuk sikap ghuluw dalam acara perayaan maulud Nabi itu, tampak jelas pada bacaan “qosidah-qosidah” atau nyanyian-nyanyian yang dinamai dengan “Sholawat Nabi”, tetapi sejatinya bukan. Hanya sya’ir-sya’ir pujian kepada Nabi yang didalamnya kalau kita perhatikan dan  memahami isinya dengan seksama, ternyata penuh kesyirikan dan kekufuran.

Kami yakin, andaikan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam masih hidup, dan mendengar sya’ir-sya’ir pujian seperti itu, tentu beliau tidak akan ridho dan bahkan melarang mereka dari yang demikian itu.

Insya Alloh contoh-contoh dan pembahasan khusus masalah ini, akan kita sebutkan pada tulisan kami yang berikutnya, semoga Alloh Ta’ala memudahkan untuk menyusunnya.

KELIMA : Bahwa perayaan Maulud Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam itu, menyerupai perbuatan orang-orang Nasrani, yang mana mereka merayakan setiap tahunnya Hari Natal (Hari Kelahiran Isa Al-Masih atau yang mereka sebut Tuhan Yesus Kristus).

Padahal syari’at agama Islam yang mulia ini melarang kita dari bersikap Tasyabbuh (menyerupai dan mengikuti) berbagai perkara yang berasal dari orang-orang kafir, baik dalam perkara aqidah, akhlak, ibadah, perayaan hari raya dan sebagainya.

Alloh Subahanhu wa Ta’ala menyatakan dalam firman-Nya :

ثُمَّ جَعَلۡنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ فَٱتَّبِعۡهَا وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ١٨

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS Al-jatsiyah : 18)

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخۡتَلَفُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُۚ وَأُوْلَٰئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ١٠٥

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS Ali Imron : 105)

Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa tasyabbuh (menyerupai) suatu kaum, maka dia termasuk (golongan) mereka.” (HR Abu Dawud no. 4031 dari Ibnu Umar rodhiyalohu anhuma, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam As-Shohihah (1/676) dan Irwa’ul Gholil no. 2384)

KEENAM : Sebagian kaum muslimin yang sudah terlanjur menjadi penggemar peringatan dan perayaan Maulud Nabi ini, mereka berdalih atau berkilah, bahwa perayaan yang mereka lakukan itu, adalah sebagai wujud “rasa cinta” kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan mereka juga bertujuan atau berniat dengan amalan itu semata-mata untuk mengharap pahala kepada Alloh Ta’ala.

Benarkah perkataan seperti ini ?

Jawabnya : Jika memang benar niat dan tujuannya seperti itu, dia harus beramal dan berbuat yang benar, sebagai bukti cintanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Karena pengakuan cinta itu harus ditunjukkan dengan bukti pada amalannya, bukan sekedar pengakuan di lesan saja.

Buktikan cintamu itu dengan benar-benar “ber-ittiba’ kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, baik dalam keyakinan, amal-amal perbuatan, ibadah, mu’amalah dan sebagainya.

Bukan dengan membuat-buat kebid’ahan, atau justru melakukan amalan yang menjurus pada kesyirikan dan kekufuran.

Pernah suatu hari, sahabat Rosululloh yang mulia, Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu, mengingkari orang-orang yang melakukan amal kebid’ahan dalam melakukan dzikir (yakni dengan dzikir secara jema’ah, dikomando oleh satu orang, dan dengan menggunakan biji-bijian/batu-batuan untuk menghitung dzikirnya).

Maka mereka membantah Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu dengan mengatakan : “Wahai Abu Abdirrohman, demi Alloh, kami tidak menghendaki ini semua kecuali kebaikan !”

Maka Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu mengatakan pada mereka :

وكم من مريد للخيرلم يصبه

“Betapa banyaknya orang yang menginginkan kebaikan, tetapi dia tidak akan memperolehnya.”  ( Muqoddimah Sunan Ad-Darimi, no. 210)

Oleh karena itulah, para ulama telah meletakkan satu qo’idah yang agung dalam agama ini, yakni :

“Suatu ibadah itu tidak akan diterima oleh Alloh, kecuali bila memenuhi dua syarat yang agung, yaitu Al-Ikhlash (yakni Ikhlas karena Alloh dalam beribadah), dan Mutaba’ah (yakni mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam).”

Jadi, niat yang baik saja, tanpa diiringi dengan Mutaba’ah, amal apapun tidak akan diterima oleh Alloh Ta’ala.

Demikian pula, Mutaba’ah saja tanpa adanya niat yang benar karena Alloh, amalannya pun juga akan sia-sia.

Demikian itulah seperti yang ditunjukkan dalam firman Alloh Ta’ala :

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

“(Dia-lah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk : 2)

Al-Imam Al-Fudhoil bin ‘Iyadh rohimahulloh menjelaskan :

“Makna : ( _“Yang paling baik amalannya”), adalah yang paling ikhlas dan paling benar._

Yakni ikhlas karena Alloh, dan benar sesuai/cocok dengan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.”

Jadi, dengan dalih atau alasan untuk mewujudkan atau mengekspresikan kecintaan kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, tetapi dengan merayakan Maulud (hari ulang tahun kelahiran beliau), hal ini justru menunjukan sikap kontradiksi.

Bagaimana mungkin hal ini bisa diterima ?

Mencintai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam itu adalah ibadah yang mulia, sedangkan perayaan Maulud bukanlah ajaran dan syari’at Rosululloh yang mulia.

Jika anda ingin amalannya diterima, tidak bisa tidak, anda harus memadukan dua perkara tersebut di atas : “ikhlas karena Alloh dalam beramal (yakni mempunyai niat dan tujuan yang benar dalam amalannya tersebut), dan sesuai dengan tuntunan atau petunjuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam (yakni caranya pun benar sesuai tuntunan syari’at beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam).”

Jika tidak demikian, harapan untuk diterima, hanyalah sia-sia belaka.

Saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh ………..

Disamping hal-hal tersebut di atas, kalau kita perhatikan dengan seksama pula, kita akan dapati bahwa dalam berbagai acara perayaan Maulud Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, banyak kemungkaran-kemungkaran yang sering terjadi.

Diantaranya : “ikhtilath” (campur baur antara orang laki-laki dan wanita dalam satu tempat), penggunaan alat-alat musik dan nyanyian-nyanyian, bahkan tak jarang melakukan sebagian amalan kesyirikan, seperti : istighotsah (berdoa memohon pertolongan) kepada Nabi, kepada wali-wali dan orang-orang sholih yang telah mati, dan sebagainya.”

Ada lagi, diantaranya : “Mereka “berdiri” ketika dibacakan kisah-kisah tentang kelahiran Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dalam rangka mengagungkan dan memuliakan beliau.

Karena mereka meyakini (lebih tepatnya mengira/meyangka), bahwa ruh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam “hadir” dalam perayaan Maulud tersebut.

Karena itulah mereka “berdiri” untuk menyambut kedatangan beliau dan memuliakan beliau.”

Sungguh, ini semua adalah sebesar-besarnya kebathilan dan sejelek-jeleknya kebodohan !

Hal itu karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak akan keluar dari kubur beliau sebelum hari kiamat.

Dan beliau tidak pernah melakukan kontak hubungan apapun dengan manusia, dan tidak pula menghadiri perkumpulan manusia. Tetapi beliau tetap berada di dalam kuburnya sampai hari kiamat. Sedangkan ruh beliau, berada di tempat yang tinggi di sisi Robb-nya di negeri yang mulia.

Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

أنا سيد ولد آدم يوم القيامة، وأول من يشق عنه القبر وأول شافع وأول مشفع

“Aku adalah sayyid anak Adam (pemimpin umat manusia) pada hari kiamat, orang pertama yang kuburannya terbuka, dan orang pertama pemberi syafa’at dan yang pertama kali  syafa’atnya diterima.” (HR Imam Muslim)

Maka hadits tersebut di atas adalah dalil yang menunjukkan, bahwa Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam dan juga orang-orang yang telah mati pada umumnya, hanya akan keluar dari kuburnya pada hari kiamat saja. Wallohu a’lamu bis showab.

Marilah kita mencintai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, tetapi jangan ghuluw (berlebih-lebihan dan melampaui batas kewajaran).

Semoga Alloh Ta’ala senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita, untuk selalu mengikuti kebenaran dan menjauhi segala kejelekan.

Aamiin.



Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

📩 Channel https://t.me/amalislami

✒ Editor : Admin Asy-Syamil.com

♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.

•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
🍯◎❦ RISALAH SUNNAH ❦◎🍯
🌐 https://t.me/RisalahSunnah
🔄 https://t.me/MuliaDenganSunnah
🗳 bit.ly/Asy-SyamilcomDonasi
👥 https://bit.ly/JoinGrupKami
🛰 App : bit.ly/AsySyamilApp

0 Response to "CINTAILAH NABI MUHAMMAD SHOLLALLOHU ALAIHI WA SALLAM, TETAPI JANGAN GHULUW (MELAMPAUI BATAS) "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel